Posted by: djaycoholyc | October 21, 2010

Derajat Sabar

Minggu-minggu ini gue disibukkan dengan ujian kesabaran. Menjadi seorang yang gak sabaran itu gak enak!.

Email kantor yang gak bersahabat bahkan kondisi lingkungan gue yang akhir-akhir ini cenderung memaksa gue untuk meningkatkan derajat kesabaran gue.

Obrolan email kantor bisa membuat kesabaran orang terpengaruh? Ya jika diisi dengan kata-kata manis si penulis tapi yang pembaca sangat tersakiti. Biasanya gue santai menghadapi kasus seperti ini, tapi entah kenapa gue udah sangat sensitive dan emosian jika itu berkaitan dengan apa yang terjadi dalam diri gue saat ini. Konyol emang, tapi itulah yang terjadi. Hey, perasaan orang itu gak sama, jadi hargai perasaan orang lain. Egois boleh saja, tapi pada tempatnya.

Pengennya sih tereak dan mengata-ngatai mereka, tapi apa gue bisa? itu menyinggung perasaan mereka. Dan gue adalah orang yang sangat menghargai perasaan orang lain *amin*.

Gue nulis ini cuma untuk meluapkan kekesalan gue, bahkan guepun masih kesal saat gue harus menghentikan tulian ini.

Gue lelah! Sungguh! 🙂

Posted by: djaycoholyc | May 8, 2010

The Untitled Project

Aku ada di sebuah tempat yang gelap. Hanya desahan nafasku dan nafas salah seorang lagi saling memburu, aku tahu aku dalam keadaan yang tidak biasa, aku bukan ada di kantor atau bahkan di rumahku. Aku terpanggang di sebuah ruangan yang sangat sempit, panas dan bau. Aku hanya bisa melihat ruangan itu sangat kacau, lampunya hanya 5 watt, itupun dalam kondisi yang parah. Aku melihat tulisan di sebuah stiker, kabur tapi aku bisa membacanya GLOFECASO Co. entah aku tidak tahu apa artinya, seperti sebuah nama perusahaan. Badanku mulai lemas, sepertinya aku sudah tidak makan selama berjam-jam, seorang yang ada di depanku, aku tidak  pernah bertemu dengannya. Laki-laki berperawakan sedang, wajahnya tidak seperti wajah seorang pembunuh, tapi dia di hadapanku memegang pistol yang berisi peluru dan siap menembakku. Aku tidak gentar menghadapi kenyataan ini, karena mungkin adalah takdirku. Tuhan telah menempatkan aku pada kehidupan yang luar biasa indah, calon istri yang cantik, pekerjaan yang hebat dan masa depan yang cerah. Dan jika memang Tuhan ingin mengakhiri hidupku dan memutuskan takdir-Nya untuk aku dengan jalan seperti ini, aku siap karena aku tidak bisa menghindar dari takdir. Pelatuk pistol itu mulai berbunyi, laras pistol sudah mengarah di keningku, aliran darahku mulai mendingin, teralir segar menuju otak, seolah-olah otak menyuruh darah untuk bergerak mengumpul di kepalaku, agar darah bisa keluar dengan bebas dari keningku. Mataku terpejam, aku mulai berfikir tentang calon istriku, aku berharap dia bisa mencari pengganti aku, yang lebih baik dan lebih mengerti dia. Siapapun laki-laki itu, aku rela.

Dooooooorrrrrrrrr!!!!

“Haaaah”.

Aku bermimpi, mimpi buruk. Dan aku melihat jam dinding di kamarku menunjukkan jam 03:45. Seperti kebiasaanku, di jam-jam seperti ini saat aku terjaga, aku tidak pernah bisa tidur lagi, maka aku putuskan untuk ke ruang kerjaku, membuka laptopku, dan menghubungkannya dengan internet. Dunia maya, terkadang aku sangat menyukai dunia ini, aku bisa menjadi orang lain yang aku mau. Bahkan, aku bisa mengarang jutaan cerita indah tentang diriku di sebuah situs pertemanan, agar aku bisa berkenalan dengan gadis cantik untuk bersenang-senang, one night stand, just for fun atau sejenisnya. Tapi, itu 2 tahun yang lalu, sampai pada saat aku bertemu dengan calon istriku. Namanya Amanda, gadis cantik berumur 23 tahun, aku berkenalan di sebuah café kecil di kotaku, saat aku terlelah dengan semua aktifitas gilaku, seperti biasa aku duduk di café itu. Dia cuma pelayan café, pertemuanku dengan dia juga sangat tidak berkesan, aku yang sudah setengah mabuk mulai meracau yang tidak jelas, dan jika aku dalam kondisi seperti itu, aku hanya bisa mencari kesalahan orang lain. Dan Amanda adalah orang lain itu, namun dia tidak marah, bahkan dia mengantarkan aku ke rumah karena dia tahu aku adalah pelanggan café itu. Amanda telah mengubah hidupku, aku lebih sensitive kepada sosok wanita, aku tidak ingin mempermainkan wanita lagi sejak aku berkenalan dengan Amanda. Sosok sederhana yang aku cari ada di dalam diri Amanda seutuhnya.

Aku membuka situs pencari, dan mengetik kata sandi GLOFECASO Co. Entah kenapa, aku merasa mimpi itu mempunyai arti. Sebelumnya aku menyetel winamp dan memutar lagu dari penyanyi favoritku Rod Stewart. Setelah itu, aku menemukan beberapa artikel tentang GLOFECASO tadi. Hanya sedikit yang memuat artikel tentang LOFECASO.

PENUTUPAN PABRIK KE-TIGA BELAS GLOFECASO DI BEKASI RUSUH

Reported By Adhy S. (09/09/1980)

Jakarta – GLOFECASO Indonesia Co. akhirnya menutup pabrik ke-tiga belasnya di Bekasi selasa 09 September 1980, namun sayang penutupan itu diwarnai oleh kerusuhan. Bahkan ada beberapa ruangan pabrik yang terbakar habis. Tidak ada korban dalam peristiwa itu….

Aku tidak membacanya sampai selesai, sampai aku scroll mouse laptop sampai pada akhir artikel. GLOFECASO Co. adalah proyek ambisius seorang peneliti dari Amerika. Proyek yang membunuh ratusan manusia Indonesia, tanpa pemerintah sadari sampai satu korban bersaksi bahwa GLOFECASO adalah proyek pembunuh masal. Aku tidak ingin membaca lanjutan artikel itu, tiba-tiba aku mual. Aku benar-benar tidak ingin membacanya, proyek itu benar-benar jahat sangat jahat, bahkan lebih jahat daripada tindakan terorisme.

Tiba-tiba ada private message dari ID yang sudah aku kenal.

Mandaku : blom tidur?

R_yan : kamu juga

Mandaku : hmm..gak bisa tidur yang

R-yan : sama dong. :D:D

Mandaku : kok bisa samaan yak

Mandaku : hihihihi

R_yan : iiih ada kunti

Mandaku : aaaah aku sendiri nih

R_yan : hehehe becanda

Mandaku : besok ada acara?

R_yan : engga sih, paling ngantor aja

R_yan : abis itu free

Mandaku : jalan yuk, abis kamu pulang kantor

R_yan : kamu off shift?

Mandaku : iya, aku lagi pengen cari buku

R_yan : ya udah, jam 4 kamu ke kantor aja

R_yan : Kita jalan dari kantorku aja

Mandaku : Oke

Aku terdiam, Manda memang benar-benar kekasih yang mengerti pekerjaanku, aku terbiasa bekerja sampai larut malam, dan Manda sudah siap jika kita menikah nanti, aku berencana menikah dengan Manda dua minggu lagi. Aku telah siap menghabiskan sisa hidupku bersama dia.

R-yan : yang

Mandaku : ya

R_yan : I love you

Mandaku : love you too

R_yan : uhmm besok sekalian kita cari yang belom selesai kita siapin ya

Mandaku : apaan?

Mandaku : undangan udah, cake udah, gedung oke

R_yan : souvernir?

Mandaku : God, why I forget that thing L

R_yan : hehehe, gpp yaudah besok kita cari aja sekalian

Mandaku : oke deh

R_yan : oh ya kemaren dapet salam dari mamah, dia sekarang di Bangkok

Mandaku : salam balik buat mamah kamu ya

R_yan : sip bos, uhm yang

Mandaku : apa

R_yan : kalau kita menikah nanti, kamu masih mau kerja di Logos?

Mandaku : terserah kamu aja baeknya gmn

Mandaku : karena saat aku udah jadi istri kamu, aku sepenuhnya buat kamu

R_yan : kalau gitu, aku mau tetap kamu kerja di sana sampai kamu punya anak, gimana?

Mandaku : sounds fair

R_yan : really fair

Mandaku : aku ngantuk, aku bobo dulu ya yang

R_yan : met bobo, jangan mimpiin aku

Mandaku : huh padahal aku dah siap-siap mimpiin kamu

R_yan : hahahaha ketahuan kan, yaudah sana, sampe ketemu besok eh entar sore ya yang

Mandaku : luv u :-*

R_yan : :-*

ID manda langsung off, sekali lagi aku beruntung mendapatkan Amanda dan bunda, ya, bunda sudah sangat setuju dengan pernikahanku nanti. Aku juga sangat bangga terhadap bunda, menjadi single parent sejak ayah meninggal 18 tahun yang lalu, dia menjadi wanita yang sangat tangguh, ayah memang meninggalkan banyak kekayaan untuk bunda dan aku, tapi bunda tidak ingin hanya memanfaatkan untuk kesenangannya saja, bunda menyumbangkan banyak kekayaan ayah untuk kegiatan sosial yang dia bangun, sebuah yayasan untuk anak-anak autis. Dan yayasan itu semakin berkembang, bunda selaku pimpinan yayasan banyak diikut sertakan dalam kegiatan sosial baik tingkat nasional maupun internasional, bunda sangat menyenangi pekerjaannya sebagai pekerja sosial, walaupun dia harus terus berpisah dengan aku. Memang rumah ini jadi terasa sangat sepi, hanya aku dan tiga pembantuku. Aku anak tunggal.

Setelah aku menghabiskan malamku bersama dunia maya, aku terlambat bangun pagi ini. Untung saja meeting dengan team produksi baru mulai 2 jam lagi. Setelah menyelesaikan sarapan pagi, aku langsung mengendarai mobilku, melaju sekencang mungkin untuk sampai di kantor, walaupun tidak tepat waktu. Aku melihat handphone dan terdapat 3 SMS dan semuanya dari Amanda.

Dah bangun blom, katanya ada meeting jam 11

Jangan lupa entar sore ya, aku dah kangen sama kamu

Ihh gak dibales, pasti belom bangun

Dan aku hanya tersenyum, Amanda memang bukan tipikal gadis manja, perhatiannya terhadap aku terkadang terlalu berlebihan, tapi aku masih menyukai perhatiannya.

Sesampainya di kantor, aku bertemu dengan orang-orang yang sama, dengan tipikal orang yang sama pula, ada yang sangat ramah menyapaku, ada yang pura-pura ramah seperti menjilat aku agar dia naik posisi. Tapi, bagiku, penilaianku terhadap karyawan-karyawanku akan tetap sama, bukan karena kuantitas kerjanya tapi karena kualitas. Bukan berapa banyaknya dia mengerjakan pekerjaannya tapi bagaimana kualitas sebuah pekerjaan yang mereka hasilkan.

“Pagi pak, jam 11 nanti…”, kata seorang wanita saat aku tiba di depan ruanganku.

“Meeting sama team produksi”, balasku cepat.

“Ya”, dia tersenyum.

Wanita itu bernama Wiena, dia adalah asistenku. Sudah menikah, mempunyai satu anak yang lucu, dan suaminya dalah sahabat karibku, Ridho.

“Wien, jam 3 ada jadwal?”.

Wiena mencoba melihat agendanya.

“Kosong pak”.

“Tetep kosong, aku mau pergi sama Manda cari souvenir”.

“Oh, oke pak dan uhmm..cuti bapak udah di approve sama HRD”.

“Oke, terima kasih Wien”.

“Ada yang lain pak?”.

“Biasa ya”.

“Kopi susu gula satu sendok gak terlalu panas?”.

“100% right”.

Aku masuk ke ruanganku, meletakkan tasku di sofa dan mencoba melepaskan lelahku saat di jalan yang semakin macet. Tiba-tiba aku mencoba merangkai semua mimpi burukku, Jika memang semuanya akan terjadi dalam waktu dekat ini, itu adalah takdir yang telah digariskan. Aku melihat undangan yang tersisa saat penyebaran kemarin.

A Weeding Present :

Ryan Soetarman bin Hardhyan Soetarman

&

Amanda Hendrawan binti Hendrawan

Akad Nikah :

Hari/Tanggal: Minggu/09 September 2007

Pukul                        : 09:00 wib

Tempat        : Aula Hotel Mulia Senayan

Aku akan menjadi seorang suami dari wanita yang aku cintai dalam waktu 14 hari mendatang, aku bahagia, paling tidak sampai malam tadi, sampai mimpi buruk iru datang. Entah mengapa, biasanya aku tidak terlalu mempedulikan mimpiku. Tapi semalam mimpi itu sangat jelas, bahkan sepertinya aku akan mengalaminya.

“Ya Wien”, telepon kantorku berdering, dari Wien asistenku.

“Pak, meetingnya di pindahin ke Bekasi, di gedung Satria Bermuda”.

“Satria Bermuda?”.

“Iya Ex-Gedung Glofecaso”.

“Glofecaso?”.

“Iya pak, denger-denger sih Gedung itu diganti atas permintaan dari walikota Bekasi karena ada sejarah buruk di tahun…”.

“1980”.

“Iya pak”.

“Ada info lain yang kamu tahu tentang Glofecaso?”.

“Setahu saya, saat Glofecaso berjaya di 80-an awal, mereka bergerak di bidang manufaktur teknologi terkemuka pak, sampai pada saat dimana terbongkar rahasia bahwa Glofecaso mengembangkan pengkloningan manusia dengan cara membunuh manusia aseli dan menghidupkan lagi dengan organ yang sudah diperbaiki menjadi organ yang sangat sempurna, percobaan mereka berhasil bahkan sampai saat ini katanya ada beberapa orang yang merupakan kloningan dari produk Glofecaso, kebanyakan sih mereka adalah orang yang berprestasi di bidangnya pak, karena pengkloningan dimaksudkan meregenerasi manusia menjadi tingkatan tertinggi dalam jajaran kehidupan”.

“Sebentar Wien, kamu kok tahu banyak?”.

“Ayah saya pernah kerja disana waktu itu pak, dan dia sadar bahwa Glofecaso itu berbahaya, makanya sebelum insiden 9 september 1980 terjadi, ayah saya keluar dari Glofecaso”.

“Oh, I’m sorry”

“Gak apa-apa pak, lagian ayah pernah bilang, penutupan Glofecaso sebenarnya terlambat, untung ada satu wartawan yang berhasil membongkar kedok mereka, yang tulisannya paling dikenang pak, Adhy S. namanya kalau gak salah”.

“Iya, semalam aku baca artikel itu”.

“Tapi, katanya sih sekarang Gedung itu udah direhab total dan menjadi bangunan biasa”.

“Oke, baiklah, makasih infonya”.

Aku sedikit merinding mendengar informasi dari Wiena, cloning, pembunuhan missal, pasti sangat mengerikan. Tetapi, mengapa pemerintah tidak tahu menahu tentang sebenarnya Glofecaso ini. Atau mungkin Amerika memang terlalu pandai menutupi kebohongannya. Aku menerima e-mail dari ayah tiriku, sekarang dia dan bunda tinggal di Jerman. Setelah ayah pensiun dari kepemimpinannya di sebuah stasiun televisi 9 bulan lalu, dia memutuskan untuk berpindah ke Jerman, kebetulan ayah dan bunda mendapatkan hak kewarganegaraan khusus di Jerman atas prestasi ayah di bidang jurnalis, entah aku juga tidak tahu prestasi apa yang ayah dapatkan, menurut penuturan ayah, piagam prestasi itu terbakar saat rumah kami di Kemang juga terbakar 9 tahun lalu, tepat hari ini.

From : hard@lycosnetwork.de

Sent : Monday, August 27, 2007 09:09 PM

To : ryan@techpro.co.id

Subject : Pernikahanmu

Importance : Regular

Ryan,

Ayah dan Bunda udah nerima undangannya, kamu ganteng, calon kamu juga cantik. Ayah akan pulang Rabu nanti, jemput ayah jam 9 malam di terminal F2.

Regards,

Ayah

Aku tersenyum melihat foto ayah yang dia temple di signature e-mailnya, dia sangat bahagia saat ini, hidupnya damai, tanpa ada gangguan dari pihak manapun. Sejak ayah memutuskan untuk mundur dari jabatan direksi dia memang lebih banyak tersenyum, dan sangat menyayangi kami anak-anaknya. Jam sudah menunjukkan 09:15, aku harus bergegas ke Bekasi, aku mencoba menyuruh Wien untuk menyiapkan mobil dan menyiapkan bahan-bahan presentasi kepada klienku.

Sepanjang jalan menuju Bekasi, aku tergetar dengan apa yang dikatakan Wiena tadi, aku sedang menuju ke arah gedung Glofecaso, bagaimana jika mimpiku mulai nyata, Glofecaso, pembantaian dan aku sesaat lagi ada di gedung itu. Namun, aku berusaha tetap santai menghadapi semuanya, mungkin itu hanya sebuah mimpi tanpa arti. Tiba-tiba saya aku mengambil secarik kertas dari agendaku, dan pulpen, aku mulai menulis, tanpa aku sadari.

Jika memang ini adalah perjalanan terakhirku, aku hanya ingin menggoreskan tulisan ini untuk memberi kabar kepada semua orang yang aku cintai, bahwa takdirku mendekat, aku tidak bisa menghindarinya. Semua yang terjadi tidak mungkin terelakkan oleh apapun. Aku bermimpi bahwa aku akan di bunuh di sebuah ruangan gelap, aku tidak tahu bahwa sebenarnya ini akan terjadi pada diriku, entah nanti atau hari ini.

Aku sayang kehidupanku, aku sayang calon istriku, aku sayang kakak dan adikku, dan aku sayang orang tuaku.

Dan aku siap mati.

Ryan

Aku lipat kertas itu, dan menaruhnya di sakuku. Aku telah sampai di gedung itu, Aku turun perlahan dan menapakkan kakiku di gedung megah di kawasan Bekasi. Aku melihat lingkungan sekitar, sangat familiar, padahal aku baru menginjakkan kakiku sekal ini. Setibanya di lobi, aku disambut oleh beberapa orang klienku yang sudah menunggu.

“Selamat datang pak Ryan”.

“Terima kasih pak”.

“Anyway, saya ke toilet dulu”.

“Oh, diujung bagunan, belok kanan pak”.

“Saya sudah tahu”.

“Kami tunggu di loby pak”.

“Baik”.

Aku melangkah pelan menuju toilet, sekali lagi, aku sangat familiar. Anehnya, aku tahu arah toilet, padahal aku baru sekali ke sini. Aku masuk ke toilet, ada satu orang berperawakan tinggi sedang membasuh tangannya, dia memperhatikan aku, namun aku abaikan. Aku berada di samping pria itu, di wastafel. Dia mengeluarkan sapu tangannya, dan tiba-tiba dia meletakkan sapu tangan itu ke hidungku, aku berontak, tapi aku tidak bisa, dia terlalu kuat untuk aku. Aku melemah, pandanganku kabur dan tiba-tiba menghilang.

Kepalaku sakit, pandanganku kabur. Aku mulai membuka mataku, aku berada di sebuah ruangan gelap, persis seperti mimpiku, aku hanya terdiam, rupanya mimpiku benar-benar terwujud, aku melihat di hadapanku stiker bertuliskan Glofecaso Co. Aku ada di tempat yang tepat untuk mengakhiri hidupku. Aku memandang pria yang ada di hadapanku.

“Beri saya satu alasan mengapa saya harus dibunuh”.

Pria itu terdiam atas pertanyaanku, aku memang sudah siap mati, tapi aku butuh satu alasan mengapa takdirku ada di tangan pria itu.

“Tolong, saya butuh alasan, saya tahu, saya sudah menantikan ini”.

Pria itu belum menjawab. Tapi beberapa menit kemudian dia berkata.

“Saya hanya dibayar untuk membunuh anda, bukan menjelaskan kepada anda mengapa anda harus dibunuh”.

“Anda pembunuh bayaran”.

“Seperti itulah”.

Pria itu menarik pelatuk pistol, lalu kemudian dia menutup mnataku dengan kain hitamnya.

Dorrrrrrrrr!!!!!!!!!!

Aku tak bernyawa lagi.

—-

Hari ini aku melakukan tugasku seperti biasa, aku berjanji kepada diriku sendiri, ini adalah pembunuhan terakhir dalam hidupku. Aku lelah dengan pekerjaan ini, walaupun aku bisa mendapatkan materi yang berlimpah, namun aku juga harus sadar semua konsekuensi yang harus aku terima. Sebenarnya bukan cuma itu alasan kenapa aku harus berhenti membunuh orang yang berdosa atau mungkin orang tak berdosa, aku ingin berhenti karena seorang wanita menawan yang mengubah hidupku.

Wanita itu bernama Amanda, wanita yang bias mengubah cara pandangku dalam menjalani hidup. Aku bertemu dengan Amanda saat aku menyelesaikan pekerjaanku 2 bulan lalu di sebuah café. Aku kelelahan dan memutuskan untuk bersandar sejenak di café itu. Beberapa menit kemudian, wanita cantik berpenampilan sederhana mendatangiku menawari minuman.

“Mau minum apa mas?”.

Aku melihat wajahnya, bersih dan damai, setiap aku bertemu dengan seseorang yang damai, aku merasa tersakiti dan kembali terobati, tangan dan tubuhku memang penuh dosa, aku sadari itu. Dan aku juga manusia yang punya rasa lelah dan jenuh. Senyum Amanda membuatku berfikir tentang pekerjaanku, apalagi setelah kami dekat dan sering melakukan pembicaraan pertemanan.

“Kris, apa sih yang kamu mau dari hidup ini?”, Tanya Amanda suatu saat.

“Aku…”, aku gugup, seumur hidup aku belum pernah mengdapatkan pertanyaan yang sulit, sesulit jawabannya, aku mencoba mengeluarkan semua isi hatiku tanpa menyebutkan bahwa aku adalah pembunuh. “Aku hanya ingin hidup lebih baik”.

“Dan apa yang kamu lakukan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik?”.

“Kenapa kamu nanya hal itu?”.

“Aku…aku hanya ingin tahu bagaimana pendapat kamu tentang arti hidup”.

“Jarang loh gadis cantik yang ingin mengerti arti hidup sesungguhnya, yang aku tahu gadis secantik kamu hanya ingin kekayaan dan popularitas”.

“Aku..aku sudah mendapatkan semuanya, dulu”.

“Dulu?”.

Amanda terdiam, matanya mulai sembab, aku tahu pasti ada bagian terburuk dari kehidupannya, namun Amanda tidak mau mengutarakannya, dia berlalu dari hadapanku, dan aku mulai berfikir, mungkin saja salah satu dari orang tua Amanda terbunuh, dan bagaimana jika dia dibunuh oleh aku. Aku tertunduk, aku mulai berfikir dengan orang-orang yang ada di sekitarku, aku menjalani pekerjaan kotor yang tidak pernah orang bayangkan, menghabisi naywa seseorang demi materi. Aku punya pekerjaan tetap di siang hari, itu jika aku tidak sedang membunuh. Aku seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta. Awal mula aku mulai membunuh adalah karena materi, aku tidak pernah mencukupi kebutuhanku sendiri, karena aku harus mencukupi kebutuhan orang tua dan ke empat adikku juga di kampung. Aku terpaksa melakukan pekerjaan tambahan yang hina walau bermateri banyak.

Pagi ini aku mendapatkan sejumlah uang di rekeningku, 300 juta rupiah. Uang DP untuk aksiku, hari ini aku harus membunuh seorang pemuda berumur 26 tahun yang merupakan rival dari klienku, aku tidak pernah ingin tahu apa masalah antara klienku dan target, aku hanya diberi tugas menghabisi nyawa target, dan semuanya hilang tanpa jejak. Aku melihat foto targetku hari ini, wajahnya cukup tampan dan yang pasti dia sangat kaya, dilihat dari mobil yang ada di sampingnya di foto ini. Aku tidak mengerti mengapa orang kaya pasti banyak mempunyai musuh, faktor iri atau balas dendam adalah factor utama yang sering aku dengar dari keluhan klien. Aku bergegas menyelesaikan sarapan pagiku, klienku ingin aksiku berjalan mulus di gedung tempat dia bekerja,  Gedung Satria Bermuda, Bekasi. Lantai basement ruang gudang penimbunan. Beberapa hari sebelumnya aku melihat tempat itu, kotor dan pengap, tapi profesionalitasku berkata lain, mungkin ini tempat terbaik untuk melakukan pembunuhan, orang tidak ada yang tahu tempat ini.

Aku melewati café tempat Amanda bekerja, dia tidak terlihat, kemudian aku melihat jam tanganku, hari ini memang bukan jadwal Amanda shift. Aku melajukan mobilku ke arah Bekasi. Di ruas tol dalam kota, aku melihat mobil yang sama persis dengan mobil targetku, aku melihatnya sekali lagi di foto itu, sama persis. Aku mendekati mobil itu dari sisi kanan jalan. Aku melihat targetku, aku kira dia tidak terlalu susah untuk diburu. Dia sedang menulis di secarik kertas, kemudian dia memandang jendela, aku langsung mendahului mobil itu.

Aku tiba terlebih dahulu di gedung itu, aku langsung menuju lantai basement, mempersiapkan peralatanku, setelah selesai aku ke lantai loby untuk menemui targetku. Aku meilhat dari kejauhan, dia sedang bersalaman, kemudian dia berjalan menuju toilet. Posisiku sudah dekat dengan toilet loby, aku masuk dan berpura-pura membasuh tanganku, sapu tanganku sudah siap untuk membiusnya sesaat, ini adalah permainanku, aku ingin targetku pingsan dan kemudian saat dia bangun aku langsung menembaknya. Pemuda itu masuk ke toilet, aku memperhatikan dia. Wajahnya lebih tampan daripada di foto. Dia bergerak di sampingku, aku langsung mengeluarkan sapu tanganku, dia mulai melemah, lalu jatuh. Aku memapahnya, langsung ke pintu keluar samping toilet, tidak ada orang sama sekali.

Kemudian, aku meletakkan pemuda itu di sebuah kursi yang sudah aku siapkan, aku membiarkan dia untuk segera bangun dari pingsannya,m diprediksikan 5 menit lagi dia akan sadar, aku tahu kualitas bius ini. Lima menit kemudian, aku melihat dia terbangun, dia tidak kaget sedikitpun atau berteriak. Dia mulai berbicara kepadaku, menanyakan mengapa dia dibunuh.

“Saya hanya dibayar untuk membunuh anda, bukan menjelaskan kepada anda mengapa anda harus dibunuh”, aku menjawab singkat.

Dia mati setelah aku tembak dua kali dengan silence pistol-ku. Darahnya mengalir dari kening dan jantungnya, aku melihat secarik kertas di sakunya, aku mengambil kertas itu, dan membacanya. Aku terkejut, rupanya dia sudah tahu bahwa dia akan mati hari ini, bahkan di tempat ini. Aku tertegun sesaat, rupanya pemuda ini benar-benar sudah merelakan kematiannya, itu semakin membuatku miris. Aku memang harus berhenti melakukan pekerjaan ini. Dan baru kali ini aku berani menyentuh targetku, aku membungkusnya dengan kain putih, dan meninggalkannya di ruang gelap itu.

Seminggu sudah aku sudah mulai melupakan target terakhirku, aku mencari tahu siapa sebenarnya pemuda itu, namanya Ryan Soetarman, dan aku menemukan alas an mengapa dia harus dibunuh, rupanya klienku menaruh dendam kepada ayah Ryan, karena ayahnya dianggap telah merusak reputasi klienku. Sungguh bodoh, perkelahian orang tua dengan korban seorang anak yang mungkin tidak berdosa. Dan yang paling mengejutkan adalah Ryan akan menikah minggu depan Ryan seharusnya menikah dengan gadis yang paling dia cintai bernama Amanda Hendrawan. Gadis cantik yang aku kagumi. Aku telah membunuh Ryan dan aku telah membunuh masa depan Amanda, aku sangat bodoh, aku merasa sangat bersalah. Dan selama seminggu ini aku tidak pernah melihat Amanda lagi di café itu. Aku kehilangan jejaknya, bagaimanapun juga aku harus membayar atas apa yang aku lakukan, dengan cara apapun aku harus mengembalikan kebahagiaan Amanda. Aku mencintainya.

Aku datang kembali ke café tempat Amanda bekerja. Rupanya Amanda telah kembali bekerja, guratan kesedihannya masih sangat terasa. Bagaimana tidak, seluruh gadis di manapun akan merasa tertekan saat tiba-tiba ada seseorang yang menghancurkan masa depannya, dengan membunuh calon suaminya. Aku mendekati Amanda yang sedang termenung di pojokan café.

“Baru kelihatan?”.

“Eh Kris, aku..”.

“Aku udah denger ceritanya dari mbak Henny, aku turut berduka cita ya”.

“Makasih Kris”.

“Aku tahu, ini berat banget buat kamu, tapi Ryan pasti sudah tenang di sana, dia juga pasti ingin ngeliat kamu tersenyum”.

Amanda masih terdiam, aku berusaha keras untuk membuat Amanda tersenyum. Dan hari-hari berikutnya, setelah aku menyelesaikan pekerjaanku di kantor, kali ini aku hanya bekerja sebagai staff rendahan di perusahaan swasta, walaupun gajinya tidak terlalu banyak, tapi aku tetap bertahan agar tidak membunuh lagi. Aku selalu menyempatkan diri ke café dan menghibur Amanda. Amanda mulai bercerita tentang Ryan dan kebaikan Ryan, sampai-sampai aku terharu mendengar semua cerita Amanda, aku mencoba menjadi pendengar yang baik demi Amanda. Suatu saat aku mengutarakan isi hatiku.

“Aku sayang sama kamu”.

Amanda terdiam, aku mulai gelisah.

“Kris, kamu baik banget sama aku, tapi aku belum siap untuk menerima cinta lagi dalam hidupku, perpisahan aku dengan Ryan cukup membuat aku sulit melupakannya”.

“Kamu tidak perlu melupakan Ryan, sampai kapanpun Ryan adalah cinta sejati kamu, dan aku akan menjadi seseorang yang mencoba mencintai kamu di masa sulit yang kamu jalani”.

Amanda memelukku, sekarang aku yang terdiam. Kemudian, Amanda mulai membuka hatinya untukku, aku makin melupakan peristiwa Ryan dan mencoba membangun hubungan yang serius dengan Amanda. Suatu saat Amanda bercerita padaku tentang hubungannya yang renggang dengan sang ayah, bahkan Ryanpun tidak pernah tahu. AKu mencoba meyakinkan Amanda bahwa tidak ada satu orang ayah dimanapun rela kehilangan anak yang dia sayangi, bujukanku berhasil dan dia memintaku untuk menemui ayahnya.

Minggu sore, setelah aku membereskan rumahku, aku menjemput Amanda untuk pergi ke rumah ayahnya. Amanda kabur dari rumahnya 5 tahun lalu, saat itu Amanda tidak pernah setuju dijodohkan dengan pilihan orang tuanya, dia akhrinya hidup sendiri tanpa saudara, beruntung dia akhirnya di adopsi oleh keluarga sederhana. Sesampai di rumah sang ayah, Amanda memintaku untuk menemui ayahnya dulu, baru kemudian Amanda menghadap. Aku turuti semua permintaan Amanda.

Aku melangkah ke rumah itu, besar dan sangat luas. Amanda mengikutiku dari belakang setelah dia mengambil dompetnya yang tertinggal, ada rasa takut menyelimuti Amanda, aku tahu itu. Aku mengetuk pintu, kemudian sosok pria tegap muncul, badanku terasa gugup, orang itu, pria itu adalah klienku, dia yang menyuruhku untuk membunuh Ryan. Ada apa ini, mengapa semuanya begitu berhubungan. Aku ingin teriak tetapi aku terdiam, aku ingin lari sekecang mungkin, namun semua itu terjadi begitu cepat. Pria itu memandangku dengan tatapan nanar, dia tidak melihat Amanda di belakangku.

“Ada apa lagi?, bukannya bayaran yang kemarin sudah cukup”.

“Maaf pak, saya kesini”.

“Sudahlah anak muda, aku sudah puas dengan kematian anaknya Adhy, sekarang aku belum mempunyai target yang akan kamu buru”.

“Pak..”.

Amanda tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan ayahnya dan aku, dia langsung menanyakan kepada ayahnya. Ayahnya menjelaskan kepada Amanda, aku tertunduk, aku merasa hidupku sudah berakhir kini. Amanda telah mengetahui siapa sebenarnya aku, dia menamparku dan mengusirku dengan kasar, dan dia lari ke arah jalan raya, dia hilang entah kemana. Aku pergi meninggalkan rumah itu, ayah Amanda hanya diam, dia memang seorang yang keras kepala.

Semalaman aku menelpon Amanda, tidak pernah ada jawaban. Aku menyesali diriku sendiri, aku telah membuat Amanda membenciku seumur hidupku. Aku pergi ke café tempat Amanda, aku melihat kesedihan di setiap wajah pekerja café. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Aku bertanya kepada mbak Henny, supervisor café itu sekaligus atasan Amanda.

“Ada apa mbak?”.

“Amanda, dia..kecelakan sore tadi”.

Aku hancur mendengar kabar itu.

“Kenapa?”.

“Dia tertabrak mobil saat berlari tepat di tengah jalan, apalagi tadi sempat hujan”.

Aku makin menyesali diriku, aku telah membunuh Amanda, aku memang tidak eprnah bisa menghentikan pekerjaan membunuhku, tanpa disadari aku telah membunuh semua yang berhubungan dengan Amanda dan Ryan.

Aku terdiam di kamarku, lampu aku padamkan, aku tidak ingin secikit keterangan di ruangan ini, aku adalah iblis yang tidak menyukai terang, aku bukan manusia lagi. Aku pembunuh, aku setan yang menghancurkan amsa depan orang lain. Aku meraba meja kerjaku, dan mengambil pistol di laci mejaku. Aku menciumi pistol itu dan aku kehilangan akalku, sesaat kemudian desiran darah mengucur dari otakku.

Aku tak bernyawa lagi.

Namaku Amanda, aku kerja di sebuah café di pinggiran kota Jakarta. Aku baru saja mengalami sebuah penderitaan yang luar biasa, minggu lalu aku harus merelakan kepergian seseorang yang sangat berarti bagiku, seseorang yang membuat aku nyaman dan aman. Calon suamiku terbunuh di sebuah gedung di daerah Bekasi. Ini adalah pukulan terberat kedua yang pernah terjadi pada diriku, pukulan pertama terjadi 5 tahun lalu, aku mengetahui bahwa ayah adalah seorang pembunuh yang sangat dibenci oleh masyarakat Indonesia. Dia terlibat dalam pemusnahan manusia missal yang terjadi 9 September 1980. Waktu itu dia menjadi supervisor dari proyek cloning manusia. Aku benar-benar malu mempunyai ayah seperti dia, maka sejak 5 tahun yang lalu aku pergi meninggalkan rumah, tanpa membawa apapun. Sampai suatu saat aku ditolong oleh seorang pemuda bernama Ryan, pemuda yang baik dan bertanggungjawab, awalnya aku tinggal bersama dia di rumahnya, namun aku tahu ini tidak benar, maka aku harus pergi dari rumah Ryan. Ryan akhirnya memutuskan menitipkan aku ke sebuah keluarga kecil bernama keluarga Hendrawan, aku senang bisa tinggal di rumah pak Hendrawan, pak Hendra dan bu Hendra tidak mempunyai anak karena factor kesehatan, maka dari itu aku diangkat menjadi anaknya. Aku mau, dan mungkin saatnya aku melupakan masa laluku bersama ayah sang pembunuh.

Hari ini aku mulai bekerja kembali, memang berat rasanya harus menjalani hidup tanpa Ryan lagi, dialah sumber kekuatan dalam kehidupanku setelah aku membenci ayahku. Aku melihat orang-orang di café sangat berlebihan menerimaku, mereka sangat perhatian kepadaku, terkadang aku jengah, namun aku sadar, mereka hanya ingin membuatku tenang dan nyaman seperti dulu, walaupun aku tahu ini akan terasa berat. Dan satu orang yang sangat memperhatikanku akhir-akhir ii adalah pelanggan café ini, pemuda tampan bernama Kristian, walaupun Ryan masih lebih tampan. Aku berkenalan dengan dia saat aku sedang merencanakan pernikahanku dengan Ryan. Aku anggap dia teman, dan dia juga menghargai pertemanan ini, sama sekali dia tidak pernah menggodaku yang berlebihan, semuanya masih wajar.

Jum’at malam, aku bekerja seperti biasa, aku mulai membiasakan diri dengan pekerjaan agar aku bisa melupakan Ryan. Kristian ada di meja 9, aku mendekatinya, entah kenapa aku mulai emrasa nyaman dengan Kristian, dia pendengar yang baik dan tidak pernah mengeluhkan obrolanku.

“Malam Kris”.

“Amanda, duduk, lagi sepi kan”.

“Iya, tumben nih, biasanya anak-anak muda pada nongkrong”.

“Mungkin sebentar lagi”.

“Iya”.

Aku duduk di hadapan Kris, aku melihat wajah Kris begitu tenang, dia sosok yang menarik. Dia mulai melemparkan cerita-cerita konyol yang bisa membuatku tertawa, sejenak melupakan Ryan. Dia berkata.

“Ada yang mau aku katakan”.

“Apaan Kris?”.

“Aku tahu, kamu berat ngadepin hidup tanpa Ryan, dan aku gak mungkin bohong sama perasaan ini….aku sayang kamu”.

Aku terdiam, aku tidak mengerti mengapa Kris berbicara seperti itu, dia menyayangi aku, itu hal wajar karena kita teman.

“Aku cinta kamu dan aku ingin kamu hidup bersama aku”.

Kris menjelaskan pengertian sayang tadi, aku melihat mata Kris, dia memang jujur menyatakan itu, dan aku tidak marah, aku tahu, ini akan terjadi, Kris telah mengeluarkan isi hatinya dengan tulus dan jujur, aku tidak bisa menyalahkannya, dan aku, akupun sebenarnya sadar bahwa Kris mencintai aku..

“Kris, kamu baik banget sama aku, tapi aku belum siap untuk menerima cinta lagi dalam hidupku, perpisahan aku dengan Ryan cukup membuat aku sulit melupakannya”.

“Kamu tidak perlu melupakan Ryan, sampai kapanpun Ryan adalah cinta sejati kamu, dan aku akan menjadi seseorang yang mencoba mencintai kamu di masa sulit yang kamu jalani”.

Reflek, aku memeluknya, aku tidak tahu betapa besar cinta Kris kepadaku, mungkin ini adalah langkah awalku untuk melupakan Ryan.

Hari-hariku menjadi lebih ringan, aku bisa berbagi dengan Kris walaupun itu adalah masalah Ryan, dia tidak pernah mengeluh, malah dia terus memberikan aku support seperti menemaniku ke kuburan Ryan. Kris tulus melakukan itu demi aku. Aku mulai menceritakan diriku sebenarnya, bahwa aku bukan anak pak Hendra, melainkan anak dari konglomerat kaya yang kabur darirumah karena akan dijodohkan, aku berbohong, karena aku tidak ingin Kris tahu siapa ayahku sebenarnya.

Kris mulai meyakinkan aku bahwa ada baiknya aku kembali ke rumah ayah, minta maaf dan mencoba membangun kembali keluargaku, aku sempat menolak namun Kris memaksa, dia hanya ingin aku bahagia, aku trenyuh, aku tidak salah memilih pengganti Ryan, bahkan dia lebih baik daripada Ryan, maaf aku membedakanmu Ryan.

Minggu sore aku putuskan untuk menemui ayah bersama Kris, aku dijemput Kris, dia berpakaian rapih.

“Rapih banget”.

“Kan mau ketemu calon mertua”

“Hah”.

“Aku akan melamar kamu di depan ayahmu”.

“Kris kamu jangan gila deh”.

“Aku memang sudah gila sejak kenal sama kamu”.

“Ihh”.

Kris akan melamarku, aku tidak percaya ini akan terjadi lagi, saat Ryan akan melamarku memang keadaannya lain, dia hanya bertemu dengan Pak Hendra bukan dengan ayah kandungku. Sekarang kris akan melamarku dan segera menikahiku, aku tersenyum gembira tentunya. Sesampainya di depan rumah, ada aroma kenangan yang luar biasa dahsyat, aku sudah tidak berada di temat ini sejak 5 tahun lalu. Ada Pak Min, satpam yang menyambutku, dia girang saat tahu aku kembali. Kemudian, mbok Iyem memelukku, aku juga memeluknya.

“Kamu ke dalem dulu, aku mau ngambil dompet ketinggalan di mobil”, kataku saat aku sadar dompetku tertinggal.

“Baiklah”.

Mbok Iyem menanyakan siapa lelaki itu.

“Dia calon suami aku mbok”.

“Ganteng neng”.

“Hehhee”.

Aku ke mobil Kris, dan mengambil dompetku, aku menemukan kertas kecil ada darah di kertas itu, aku penasaran dengan kertas itu, lalu aku membukanya.

Jika memang ini adalah perjalanan terakhirku, aku hanya ingin menggoreskan tulisan ini untuk memberi kabar kepada semua orang yang aku cintai, bahwa takdirku mendekat, aku tidak bisa menghindarinya. Semua yang terjadi tidak mungkin terelakkan oleh apapun. Aku bermimpi bahwa aku akan di bunuh di sebuah ruangan gelap, aku tidak tahu bahwa sebenarnya ini akan terjadi pada diriku, entah nanti atau hari ini.

Aku sayang kehidupanku, aku sayang calon istriku, aku sayang kakak dan adikku, dan aku sayang orang tuaku.

Dan aku siap mati.

Ryan

Aku meneteskan air mataku, tapi kenapa kertas ini ada di mobil Kris, aku segera menyusul Kris dan seolah-olah aku tidak pernah menemukan kertas itu. Aku mendengar obrolan ayah dan Kris, aku tidak mengerti. Ayah memelukku kemudian menjelaskan padaku.

“Dia adalah pembunuh Ryan, calon suami kamu”.

“Yah, jangan asal bicara”.

“Ayah tidak asal bicara karena ayah yang menyuruh dia membunuh Ryan”.

“Kenapa?”.

“Ryan adalah anak dari Adhy Soetarman, dia adalah jurnalis yang menulis kebobrokan ayah saat di Glofecaso, maka ayah meminta dia untuk membunuh semua keluarga Adhy, dimulai dari anaknya, Ryan, ayah tidak pernah tahu kalau Ryan adalah calon suami kamu, ayah minta maaf..”.

Aku menangis, aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar, aku menampar Kris, rupanya dia memanfaatkan situasiku, dia ingin menjadi pahlawan bagiku dengan menikah dengannya dan aku melupakan kematian Ryan. Aku berteriak dan berlari meninggalkan rumah, tanpa tujuan, aku benar-benar ingin menghilang dari dunia ini, aku terus berlari kea rah jalan raya, tanpa sadar dari arah kanan mobil melaju dengan sangat kencang, aku terkejut dan tubuhku terpental jauh ke sudut jalan, aku merasa bebanku meringan, penglihatanku mulai kabur, dan aku sejenak melihat mobil yang menabrakku berhenti, aku melihat stiker di mobil itu, Glofecaso Co. perusahaan tempat ayahku bekerja dulu, aku mati di tangan seorang yang mungkin pernah bekerja bersama ayahku.

Lambat laun aku tersungkur, dan aku menutup mataku, damai itu telah hadir di kehdupanku, aku tanpa beban lagi.

Aku tak bernyawa lagi.

Sandy Satriawan ditangkap atas tuduhan pembunuhan masal di Glofecaso tahun 1980. Dia adalah konglomerat kaya pemilik Logos Café dan dia didakwa karena membunuh 172 orang pada tahun 1980.

Amanda Satriawan dimakamkan tepat di samping makam ibu kandungnya, dan di belakangnya adalah dua calon suaminya, Ryan Soetarman.

Mayat Kristian tidak pernah ditemukan sampai saat ini, karena saat itu pula rumah Kristian terbakar habis karena ulah seseorang yang membakarnya.

Posted by: djaycoholyc | February 18, 2010

Saya dan OCD

Dua hari yang lalu saya (pada akhirnya) tahu bahwa kebiasaan-kebiasaan saya selama ini adalah sebuah penyakit yang rupanya menimpa banyak orang.

Begini ceritanya *suara horor*, ah too scary *getok*

Seingat saya, kejadian-kejadian yang menjadikan kebiasaan-kebiasaan ini terjadi sekitar 2006. Awal-awal tahun saya berada di Papua. Kondisi Papua yang labil membuat saya merasa harus waspada setiap saat setiap waktu. Dari kondisi tersebut kemudian menyadarkan saya bahwa saya memang sudah masuk dalam taraf berpenyakit Obessive-Compulsive Disorder. Terima kasih kepada Mbak Kania yang sudah membukakan mata saya bahwa kebiasaan ini adalah penyakit ringan yang bisa disembuhkan.

Apa itu Obsessive-Compulsive Disorder? atau biar lebih enaknya kita sebuh OCAPEDEEEHH..eh OCD aja!

OCD adalah sebuah penyakit psikologis yang menyebabkan penderitanya melakukan hal-hal yang tak biasa secara repetitif sehingga menimbulkan paranoid yang (terkadang) berlebihan, itu mungkin pengertian singkatnya. Lebih jelasnya silahkan baca sendiri di Wikipedia.

Contoh kasus yang saya rasakan adalah pada saat saya menutup pintu rumah. Saya sering sekali bolak-balik memastikan bahwa pintu benar-benar terkunci, itu bisa empat sampai enam kali, setelah itu saya baru tenang. Awalnya saya fikir itu biasa, preventif keamaan rumah. Tapi lambat laun, kegiatan itu seolah-olah menjadi semacam “ritual” dan “rutinitas” yang kerap saya lakukan jika bepergian keluar rumah, atau bahkan sebelum tidur. Contoh yang lain (ini mungkin lebih ekstrim), saat saya menyalakan kompor gas, melakukan kegiatan dapur kemudian mematikan. Saya hampir tidak bisa tertidur hanya karena saya memikirkan sebuah pertanyaan “Eh, tadi kompor gas sudah dimatikan belum ya?”, dan pada akhirnya itu mengganggu waktu saya saat saya benar-benar sudah terlelap. Efek dari itu semua adalah saya berfikir dua kali jika ingin menyalakan kompor gas itu, saya tidak mau terbebani dengan pernyataan tersebut jika saya menyalakan kompor gas.

Dan sebenarnya masih banyak contoh-contoh yang lain.

Sudah 4 tahun saya mengidap penyakit psikologis ini, dan mungkin sudah saatnya saya akan melawan penyakit ini demi ketenangan saya. Karena efek yang (katanya) gampang stres dan tidak fokus membuat saya sedikit mulai merasa terganggu dengan penyakit ini.

Ah bayangkan saja, saat saya keluar kota menuju Bandara, rumah-Bandara berjarak 60-an KM dengan jarak tempuh 1 jam. Ditengah perjalanan, sekitar 10 KM, saya harus memutar balik ke arah rumah hanya untuk memastikan bahwa pintu sudah terkunci, alat elektronik sudah dipadamkan dan kompor sudah dalam keadaan mati.

Jika ada informasi tentang terapi penyakit ini, mungkin saya akan mencobanya *saat ini saya sedang mencari banyak informasi tentang hal ini*

Wikipedia : http://en.wikipedia.org/wiki/Obsessive%E2%80%93compulsive_disorder

Posted by: djaycoholyc | November 8, 2009

si Bujang & si Lintah (Bagian Kedua)

Tiba-tiba aja saya keingetan pernah nulis si Bujang & si Lintah. Bukan ini bukan sama halnya dengan kasus Buaya vs Cicak yang rame-rame sedang hangat merona. Tersebutlah dalam tulisan itu Bujang telah berubah menjadi Lintah. Lalu bagaimana nasib Lintah? mari kita cermati.

Setelah lama tidak mengikuti perkembangan Bujang-Lintah, kemarin sore saya dan beberapa teman saya pada akhirnya muak dengan ulah Bujang yang semakin menggila. Ngomongin Bujang saat Bujang gak ada seperti trending topic yang wajid dan kudu kita lakukan. Bujang adalah hal yang enak dihujat dan dicela karena Bujang telah berubah total. Di kesempatan itu, saya dan teman-teman saya yang kebetulan ada satu Lintah disitu dengan asyiknya membahas keburukan dan kejelekan Bujang. Lintah yang dulunya sangat mengabdi kepada Bujang akhirnya urun bicara. Diapun sudah muak dengan Bujang, bagaimana bisa? Bujang adalah sesembahannya dan sekarang dia sudah murtad. Lintah murtad memang bukan hal baru, tapi dalam kemurtad-annya dia masih berpura-pura beriman kepada Bujang, tetap menyembah meskipun tak ikhlas.

Lintah kemudian bercerita apa yang terjadi selama dia ada di dekat Bujang, bukan–bukan kebahagiaan lagi tapi sebuah keterpaksaan. Rupanya Bujang berubah menjadi monster oportunis yang memakai kekuasaannya demi menekuk semua hak Lintah untuk bilang “Tidak”. Lintah merasa bahwa hak-nya dikebiri. Jika dia menolak maka dengan pasti Bujang akan menutup segala akses kenikmatan yang biasa diterima oleh Lintah. Tersadar bahwa pada akhirnya saya salah telah menilai Lintah-Lintah itu, dan saya berfikir Lintah tidak bersalah yang salah adalah Bujang. Ah tapi apa daya aku hanya semut yang bisa menggigit sebentar lalu ditepuk dan mati seketika.

Kasihan Lintah, lingkaran setan Bujang makin kuat. Oh ya..dan sekarang muncullah Perawan, wanita Bujang yang sama busuknya dengan sang Bujang.

Posted by: djaycoholyc | August 7, 2009

02.49

Ada kalanya seseorang itu bisa berubah hanya karena sesuatu yang sangat-sangat tidak wajar. Contoh saja, saat Kotaro Minami bertemu dengan monster jahat pastilah dia berubah menjadi Ksatria Baja Hitam RX, wondering mengapa sang monster masih saja diam dan tak melakukan apapun saat Kotaro berubah. Andai saja saya jadi monster, maka saat Kotaro berteriak “Berubaaah…!!”, saya langsung tikam dia pake silet cukur!!!.

Pfff….deskripsi diatas menggambarkan apa yang sedang saya rasakan malam ini! Bener-bener berubah dari yang ganteng menjadi sangat ganteng…dari yang baik menjadi sangat ganteng dan dari yang murah hati menjadi sangat ganteng! *ambigue ya kalimat ini!. Ini mungkin akibat saya seringnya menghafalkan berapa host dan subnet dalam sebuah jaringan IT alias keracunan CCNA!. Arghhh baru tau kalau CCNA bisa membuat orang jatuh sakit berurutan. Suwer deh, pas kemarin di Balikpapan -loh..kan cerita kehidupan nyata??? prolog sama isinya ga sinkron!.

Dan…saya masih ingin jadi penulis..Ohh..Obsesi..Obsesii..Obesit…as!!!

Rrrrr…jam 02:53…Off aja!

Posted by: djaycoholyc | August 6, 2009

Pertamax!

Pertama…

Awalnya sih pengennya iseng buat bikin blog, sudah tidak berminat membeberkan segala keluh kesah hidup di meda internet. Capek ngetiknya ga penting juga dibaca :D.

Jadi untuk apakah saya membuat wordpress ini?

Yah kita lihat saja nanti!

Categories